3 Tahap Perencanaan Strategi untuk Bisnis

3 Tahap Perencanaan Strategi Untuk Bisnis

Strategi merupakan salah satu aspek yang penting dan diperlukan oleh setiap jenis perusahaan baik yang bergerak dalam bidang produksi, dagang, maupun jasa.

Strategi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mencapai tujuan jangka panjang dari perusahaan tersebut.

Oleh sebab itu, sebelum merencanakan suatu strategi, perlu direncanakan terlebih dahulu tujuan jangka panjang dari perusahaan tersebut.


Tujuan

Tujuan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tujuan periodik dan tujuan jangka panjang.

Tujuan periodik atau “Annual Objectives” adalah tujuan yang ingin dicapai perusahaan pada setiap periodenya, dimana biasa lama 1 periodenya adalah 1 tahun.

Tujuan jangka Panjang atau yang sering disebut sebagai “Long Term Objectives” dapat diartikan sebagai hasil yang diharapkan dari suatu perusahaan dengan melakukan strategi tertentu yang telah direncanakan.

Jangka waktu dari tujuan jangka panjang perusahaan sendiri haruslah panjang dan konsisten, misalnya 2 sampai 5 tahun.

Perencanaan tujuan perusahaan menjadi sangat penting karena berfungsi untuk menentukan arah perusahaan kedepannya.

Tanpa tujuan yang jelas, arah perusahaan menjadi tidak terarah dan keberlangsungan perusahaan kedepannya menjadi tidak jelas pula.

“Kunci utama untuk sukses dalam bisnis adalah kerja keras.”

Tentunya kalian sudah sering mendengar kalimat ini.

Hanya saja, kerja keras saja tidak cukup. Karena, tanpa tujuan yang jelas pada akhirnya akan membuat kerja keras anda menjadi sia-sia.

Memang, kesuksesan yang terjadi karena ketidaksengajaan memang ada, tetapi kasusnya sangat jarang dibanding kesuksesan yang dicapai dengan kerja keras untuk mencapai tujuan.

Oleh sebab itu, tujuan jangka perusahaan sangat penting, dan berikut ini adalah karakteristik dari tujuan perusahaan yang baik:

  1. Bersifat kuantitatif
  2. Dapat diukur
  3. Realistis
  4. Dapat dimengerti
  5. Menantang
  6. Hierarkis

Maksud dari kuantitatif seperti yang sudah kalian semua ketahui adalah tujuan perusahaan tersebut harus menggunakan angka-angka atau model-model matematis.

Dimana, tujuan utamanya adalah agar tujuan dari perusahaan tersebut dapat diukur.

Dengan dapat diukurnya tujuan perusahaan ini, membuat perusahaan dapat mengevaluasi dan memperbaiki kinerja perusahaan tersebut untuk kedepannya.

Tujuan yang dibuat juga harus realistis, maksudnya tujuan tersebut dapat dicapai, bukanlah sesuatu yang sifatnya mustahil.

Selain itu, tujuan yang dibuat juga harus mudah dimengerti oleh pembacanya, agar tidak dapat menimbulkan tafsiran ganda yang membingungkan.

Oleh sebab itu juga, tujuan perusahaan bersifat kuantitatif karena sifatnya yang lebih pasti dan tidak menimbulkan tafsiran ganda.

Tujuan yang dibuat juga harus menantang agar dapat membuat anda menjadi semakin termotivasi untuk mencapai tujuan tersebut.

Karena jika anda hanya memiliki tujuan yang mudah untuk dicapai, dapat membuat anda malas untuk mencapai tujuan tersebut.

Namun, jika anda mempunyai tujuan yang menantang dan sangat sulit untuk dicapai, akan membuat anda lebih termotivasi untuk mencapai tujuan tersebut.

Misalkan pada akhirnya anda tidak berhasil mencapai tujuan tersebut, tetapi minimal anda telah berusaha keras sampai titik tertentu.

Selain itu, tujuan juga harus dibuat secara hierarkis. Maksudnya susunan dari tujuan tersebut harus disusun secara benar.

Jadi, tujuan yang dicapai harus disusun dari mana yang harus dicapai terlebih dahulu, lalu diikuti dengan tujuan-tujuan yang lainnya.

Terdapat 11 tipe strategi yang dapat perusahaan gunakan untuk mencapai tujuannya tersebut.

Untuk lebih jelas mengenai 11 tipe strategi yang dapat perusahaan gunakan untuk mencapai tujuannya tersebut dapat dilihat di: 11 Tipe Strategi untuk Mencapai Tujuan Perusahaan

Setelah diketahui tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut, maka baru dapat dilakukan perencanaan strategi yang terdiri atas 3 tahap yaitu:

  1. Strategy Formulation
  2. Strategy Implementation
  3. Strategy Evaluation.

11 Tipe Strategi untuk Mencapai Tujuan Perusahaan

11 Tipe Strategi untuk Mencapai Tujuan Perusahaan

Terdapat 11 macam strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuannya.

Dimana, semua strategi tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu:

  1. Integration Strategy
  2. Intensive Strategy
  3. Diversification Strategy
  4. Defensive Strategy

Integration Strategy

Integration strategy adalah strategi perusahaan untuk memperluas rantai distribusi dari perusahaan tersebut.

Maksudnya, strategi ini berfokus untuk menguasai rantai distribusi dari perusahaan dari hulu sampai hilir.

Integration strategy sendiri terdiri atas 3 jenis strategi yaitu forward integration, backward integration, dan horizontal integration.

Forward integration adalah strategi perusahaan untuk memperoleh kepemilikan atas distributor atau retailer.

Backward integration adalah strategi perusahaan untuk memperoleh kepemilikan atas produsen atau supplier.

Horizontal integration adalah strategi perusahaan untuk memperoleh kepemilikan atas perusahaan kompetitornya.

Contohnya, PT. Indofood sebagai penghasil produk indomie.

Strategi forward integration yang dilakukan PT. Indofood adalah dengan mendirikan perusahaan ritel Indomaret.

Dengan dikuasainya indomaret sebagai perusahaan ritel dapat meningkatkan margin yang diperoleh Indofood sendiri, karena produk indomie yang langsung dijual ke konsumen tanpa melalui perantara.

Atau, dengan produk indomie yang dijual secara langsung ke konsumen, dapat membuat produk indomie yang lebih meruah dibanding produk kompetitornya.

Strategi backward integration yang dilakukan adalah dengan mengakuisisi (membeli) bogasari yang merupakan perusahaan tepung.

Dengan dikuasainya bogasari yang merupakan perusahaan tepung, dapat menurunkan biaya bahan baku dari pembuatan indomie sendiri.

Serta, strategi horizontal integration yang dapat dilakukan oleh PT. Indofood misalnya adalah seperti mengakuisisi (membeli) perusahaan Mie Sedaap.

Sehingga, dengan diakuisisi produk mie sedap, dapat meningkatkan pangsa pasar dan mengurangi jumlah kompetitor dari produk indomie sendiri.


Intensive Strategy

Intensive strategy adalah strategi perusahaan untuk meningkatkan posisi kompetitif perusahaan atas produknya di pasar.

Jadi, tujuan utama dari strategi ini adalah agar masyarakat lebih mengenal dan mengetahui produk suatu perusahaan dibanding produk kompetitornya.

Intensive strategy dibagi menjadi 3 jenis strategi yaitu market penetration, market development, product development

Market penetration adalah strategi yang berfungsi untuk meningkatkan pangsa pasar dari suatu produk atau jasa dengan cara melakukan strategi marketing.

Market development adalah strategi untuk meningkatkan pangsa pasar dengan cara mengenalkan suatu produk atau jasa ke daerah geografis yang baru.

Perbedaan antara market penetration dan market development adalah pada market penetration, produk atau jasa dari perusahaan tersebut sudah ada di pasar, tetapi masih belum begitu diketahui secara luas.

Sedangkan pada market development, produk atau jasa tersebut belum masuk ke pasar pada daerah tertentu, sehingga perusahaan berusaha untuk mengenalkan produk tersebut ke daerah baru tersebut.

Berbeda dengan, Product development merupakan strategi untuk meningkatkan pangsa pasar dengan cara mengembangkan atau menciptakan produk atau jasa yang baru.

Jadi, tujuan dari strategi ini adalah untuk meningkatkan sales dari perusahaan sendiri.

Contohnya seperti Samsung yang sekarang ini sudah memiliki berbagai jenis tipe smartphone dari lini galaxy yang ditawarkan, mulai dari seri S, A, J, Note, Tab, sampai Watch.

Selain itu, Samsung juga mengembangkan produknya secara rutin, contohnya seri Samsung galaxy S yang sekarang ini sudah sampai seri Samsung galaxy S 10.


Diversification Strategies

Diversification strategies adalah strategi perusahaan untuk mengembangkan produk atau jasa baru untuk dapat meningkatkan pangsa pasar yang dapat diperoleh perusahaan tersebut

Diversification strategis dapat dibagi menjadi 2 yaitu related diversification dan unrelated diversification.

Related diversification adalah strategi perusahaan untuk mengembangkan produk atau jasa baru yang masih berkaitan dengan produk atau jasa perusahaan tersebut.

Contohnya adalah seperti Facebook sebagai perusahaan yang bergerak di bidang social networking membeli whatsapp dan instragram yang juga merupakan aplikasi social media.

Jadi, hal yang dilakukan facebook dengan membeli whatsapp dan instragram merupakan related diversification, karena produk barunya masih bergerak di bidang yang sama dengan facebook.

Sedangkan, unrelated diversification adalah strategi perusahaan mengembangkan produk atau baru yang tidak memiliki kaitan dengan produk atau jasa perusahaan sekarang ini.

Contohnya adalah xiaomi yang merupakan perusahaan teknologi, dimana sekarang ini, xiaomi tidak hanya menjual produk teknologi saja.

Melainkan, xiaomi juga menjual produk sehari-hari misalnya dari sling bag, payung, sampai dompet.


Defensive Strategy

Defensive strategy adalah strategi perusahaan untuk strategi perusahaan untuk mempertahankan posisi perusahaan tersebut saat ini di pasar agar tetap dapat bertahan.

Alasan utama perusahaan melakukan defensive strategy adalah karena terjadinya penurunan kinerja perusahaan di pasar yang biasanya ditunjukkan dengan laba yang semakin menurun.

Oleh sebab itu, perusahaan perlu untuk melakukan tindakan agar penurunan tersebut tidak terjadi terus menerus atau terjadi tidak terlalu signifikan agar perusahaan tetap dapat bertahan.

Terdapat 3 defensive strategi yang dapat dilakukan perusahaan agar tetap dapat bertahan hidup meliputi: Retrenchment, Diversiture, dan liquidation.

Retrenchment adalah strategi perusahaan dengan menjual aset atau unit perusahaan yang dianggap tidak menguntungkan.

Aset dianggap tidak menguntungkan karena tidak memberikan nilai atau value pada perusahaan atau aset yang tidak digunakan/jarang digunakan.

Dimana, tujuan utama dari strategi ini adalah untuk mengurangi biaya yang ditimbulkan dari aset itu sendiri.

Contohnya seperti mesin, yang jika baik digunakan maupun tidak digunakan oleh perusahaan tetap akan menimbulkan biaya yaitu biaya depresiasi.

Jadi, jika terdapat mesin yang tidak dipakai lebih baik untuk dijual, karena hanya akan menimbulkan beban kepada perusahaan.

Divestiture adalah strategi perusahaan untuk menjual divisi atau bagian dari suatu perusahaan yang dianggap tidak menguntungkan.

Dengan menjual divisi dari suatu perusahaan, maka secara otomatis perusahaan juga menjual aset perusahaannya.

Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa strategi retrenchment merupakan bagian dari divestiture.

Contoh dari strategi divestiture adalah misalnya The Coca-Cola Company yang memiliki 3 jenis produk yaitu coca-cola, sprite, dan fanta dimana setiap produk tersebut memiliki divisi yang berbeda.

Setelah diamati, ternyata divisi fanta mengalami penurunan penjualan secara terus menerus, oleh sebab itu, The Coca-Cola Company memutuskan menjual divisi fanta untuk mengurangi biaya yang timbul agar tidak mengalami penurunan laba.

Liquidation adalah strategi perusahaan untuk menjual semua aset perusahaan karena sudah tidak menguntungkan lagi.

Karena dianggap, lebih baik perusahaan untuk berhenti beroperasi dibandingkan beroperasi jika sudah tidak menguntungkan lagi.

Contohnya seperti PT Sariwangi Agricultural Estate Agency, PT Nyonya Meneer, Batavia Air, dan lain lain.

Tetapi, apakah semua strategi tersebut harus digunakan?

Jawabannya tidak, karena tidak ada perusahaan yang mampu untuk menjalankan semua strategi tersebut sekaligus.

Sebab, sumber daya yang dimiliki perusahaan jumlahnya terbatas, dan juga itu hanya akan membuang biaya dan waktu perusahaan.

Oleh karena itu, perusahaan harus membuat keputusan mengenai strategi mana yang harus dijalankan.

Perusahaan harus memilih strategi mana yang paling cocok dan bermanfaat dan sesuai dengan kondisi saat ini dari perusahaan tersebut.

Serta, dari 11 tipe strategi tersebut, terdapat juga strategi yang sifatnya saling berlawanan dan tidak mungkin untuk dilakukan secara bersamaan.

Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan)

Corporate Social Responsibility

Tanggung jawab sosial perusahaan memberikan tantangan bisnis untuk hadir dan melakukan interaksi dengan pemaku kepentingan perusahaan.

Para pemaku kepentingan baik pasar ataupun non-pasar sangat mengharapkan bisnis yang dijalankan bertanggung jawab terhadap sosial dan sekarang telah banyak perusahaan yang menjadikan tujuan sosial sebagai bagian dari operasi bisnis mereka.

Namun, melakukan bisnis atau bertindak dengan cara bertanggung jawab sosial tidak selalu berjalan dengan baik, hal ini masih mendatangkan kontroversi.

Para manajer tentunya memiliki tanggung jawab kepada pemegang saham mereka, karena pemilik bisnis telah menginvestasikan modal mereka ke perushaan.

Corporate social responsibility (CSR) / Tanggung Jawab Sosial Perusahaan memiliki arti bahwa perusahaan harus bertanggung jawab atas setiap tindakan yang mempengaruhi orang lain, komunitas, dan lingkungan.

Hal ini menyiratkan bahwa bahaya terhadap orang dan masyarakat harus diakui dan diperbaiki jika memungkinkan.


Berbagai Tanggung Jawab Perusahaan

Sebuah bisnis memiliki banyak tanggung jawab, yaitu tanggung jawab ekonomi, hukum , dan sosial.

Adapun tantangan bagi perusahaan adalah menggabungkan atau memadukan semua tanggung jawab tersebut ke dalam strategi perushaan yang komprehensif tanpa mengabaikan kewajibannya.

Dengan adanya tanggung jawab yang ganda, tidak berarti perusahaan yang bertanggung jawab sosial tidak dapat menghasilkan keuntungan seperti tanggung jawab yang lain.

Namun, masih ada pihak yang menyatakan dengan adanya tanggung jawab sosial ini akan melemahkan kekuatan komprehensif perushaan.


Prinsip Dasar Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

 Prinsip Keamanan
DefinisiBisnis harus memberikan bantuan sukarela kepada masyarakat dan kelompok yang membutuhkan
Tipe dari aktivitasFilantropi perusahaan,
Tindakan sukarela untuk menunjukkan kebaikan sosial
ContohYayasan filantropi perusahaan,
Inisiatif swasta untuk memecahkan masalah sosial,
Kemitraan sosial dengan kelompok yang membutuhkan
 Prinsip Penatagunaan
DefinisiBisnis, bertindak sebagai wali amanat publik, harus mempertimbangkan kepentingan semua orang yang dipengaruhi oleh keputusan dan kebijakan bisnis
Tipe dari aktivitasAkui interdependensi bisnis dan masyarakat,
Menyeimbangkan kepentingan dan kebutuhan banyak kelompok yang beragam di masyarakat
ContohKepentingan pribadi yang tercerahkan,
Memenuhi persyaratan hukum,
Pendekatan pemangku kepentingan untuk perencanaan strategis perusahaan

Perdebatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Argumen Setuju Mengenai Tanggung Jawab Sosial (Pro)

Banyak eksekutif perusahaan yang mempercayai bahwa tanggung jawab sosial diperlukan oleh perusahaan.

Hal ini ditunjukkan dengan survey yang dilakukan oleh McKinsey pada 2005 dimana didapatkan bahwa 84% dari perusahaan setuju bahwa perusahaan harus “menghasilkan pengembalian yang tinggi kepada investor tetapi juga menyeimbangkan dengan tanggung jawab sosial dari perusahaan misalnya dengan pembuatan sarana publik.”

Berikut ini adalah alasan-alasannya:

1. Menyeimbangkan Kekuatan Perusahaan Dengan Tanggung Jawabnya

Banyak perusahaan sekarang ini yang memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar.

Sehingga, banyak orang yang percaya bahwa kekuatan tersebut harus diseimbangkan dengan tanggung jawab dari perusahaan tersebut.

Jadi, perusahaan berkomitmen untuk melakukan tanggung jawab sosialnya karena mereka menyadari bahwa jika mereka menyalahgunakan kekuatan yang dimiliki maka mereka mungkin dapat kehilangan kekuatan tersebut.  

2. Tidak Terbebani Oleh Peraturan Pemerintah

Dengan suatu perusahaan melakukan tanggung jawab sosialnya, maka perusahaan tersebut secara tidak langsung dapat mengatasi masalah dari peraturan pemerintah yang ada.

Jadi perusahaan dapat lebih bebas dalam melakukan pengambilan keputusan.

Karena, dalam kasus bisnis, dengan adanya peraturan pemerintah cenderung dapat meningkatkan biaya ekonomis dan membatasi fleksibilitas dalam pengambilan keputusan.

3. Memberikan Keuntungan Jangka Panjang Untuk Suatu Bisnis

Keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan sosial akan membawa suatu nilai positif bagi perkembangan dan kelangsungan bisnis jangka panjang.

Karena, dengan kegiatan ini dapat menguatkan peforma finansial suatu perusahaan dengan menarik perhatian kostumer baru.

Dimana dengan tangung jawab sosial perusahaan ini dapat membentuk citra yang lebih baik tentang suatu bisnis.

4. Meningkatkan nilai dan reputasi suatu bisnis.

Dengan perusahaan melakukan tanggung jawab sosialnya, maka dapat meningkatkan reputasi sosial perusahaan tersebut.

Reputasi sosial dari suatu perusahaan merupakan elemen yang sangat penting bagi perusahaan dalam meningkatkan kepercayaan kostumer dan pemegang saham.

Reputasi merupakan asset tidak berwujud perusahaan karena dapat mendorong pembelian kembali dari kostumer dan membantu dalam menarik dan memepertahankan pekerja yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan keuntungan.

5. Memperbaiki masalah sosial yang disebabkan suatu bisnis.

Banyak orang percaya bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memberikan kompensasi kapada para masyarakat atas dampak yang ditimbulkan perusahaan.

Misalnya, jika konsumen dirugikan atas produk cacat, atau dampak terhadap lingkungan yang dihasilkan dari suatu bisnis, maka perusahaan tentunya harus bertanggung jawab terhadap masalah sosial yang ditimbulkan.

Argumen Melawan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Kontra)

Seorang ekonom bernama Milton Friedman mengatakan bahwa perusahaan hanya memiliki 1 tanggung jawab yaitu menggunakan segala sumber daya yang ada untuk menghasilkan profit.

Beberapa pelaku bisnis setuju dengan pandangan tersebut, karena tentunya dengan tanggung jawab sosial ini tentunya akan menurunkan efisiensi dari perusahaan itu sendiri.

1. Menurunkan efisiensi dan laba.

Terdapat argumen yang mengatakan bahwa jika perusahaan menggunakan sumber dayanya untuk tujuan sosial maka dapat beresiko mengurangi efisiensi perusahaan tersebut.

Contohnya, jika suatu perusahaan membiarkan pabriknya untuk tetap beroperasi meskipun tidak produktif hanya untuk mempertahankan para pekerjanya, dimana akan berdampak pada penurunan profit.

2. Membebankan biaya yang tidak setara dengan para kompetitor.

Argumen lain terhadap tanggung jawab sosial adalah membebankan biaya yang lebih besar dibanding dengan perusahaan-perusahaan lain yang sejenis.

Jadi, jika suatu perusahaan melakukan tanggung jawab sosial nya, akan muncul biaya-biaya baru sehingga biaya total dari perusahaan tersebut akan lebih tinggi dibanding perusahaan sejenis yang lainnya.

Sehingga akan memberikan keunggulan kompetitif kepada para kompetitor.

3. Membebankan biaya tersembunyi kepada para pemengang saham.

Tentunya jika perusahaan melakukan tanggung jawab sosial nya, tentunya akan timbul biaya biaya baru, dan tentunya ada pihak yang harus membayar biaya baru yang ditimbulkan tersebut.

Dimana salah satu pihak yang harus menanggung biaya baru yang timbul tersebut adalah para pemegang saham.

Hal ini ditunjukkan dengan perolehan dividen yang didapat para pemegang saham menjadi semakin kecil.

4. Keterampilan bisnis yang diperlukan mungkin kurang.

Pelaku bisnis tentunya tidak cukup terlatih untuk menyelesaikan masalah sosial yang disebabkan perusahaan bersangkutan karena bukanlah bidang mereka.

Oleh sebab itu, tentunya keterampilan yang dimiliki pelaku bisnis untuk menyelesaikan masalah tanggung jawab sosial ini tentunya masih kurang.

Dimana bedasarkan survei yang dilakukan, hanya sebesar 11% organisasi yang berhasil mengimplementasikan strategi tanggung jawab sosial perusahaan dengan sukses.

5. Membebankan tanggung jawab kepada bisnis dibanding individual.

Terdapat argumen yang mengatakan bahwa tanggung jawab seharusnya dibebankan kepada individu, karena individu tersebut yang membuat keputusan bukanlah suatu organisasi.

Oleh sebab itu, salah jika kita membebankan tanggung jawab sosial kepada suatu bisnis, melainkan seharusnya dibebankan kepada pelaku bisnis yang terlibat dalam suatu keputusan.


Menyeimbangkan Tanggung Jawab Ekonomi, Hukum, dan Sosial

Banyak eksekutif bisnis percaya bahwa kunci utama yang dihadapi organisasi mereka saat ini adalah untuk memenuhi ekonomi yang dipegang, sebagai figur dan tanggung jawab sosial secara bersamaan.

Sebuah bisnis harus mengelola pemegang saham yang bertanggung jawab secara ekonomi, persyaratan hukumnya untuk hukum dan peraturan sosial, dan tanggung jawab sosialnya terhadap berbagai pemangku kepentingan.

Meskipun kewajiban ini kadang-kadang dapat menimbulkan konflik, perusahaan yang sukses adalah pihak yang manajemennya menemukan cara untuk memenuhi setiap tanggung jawab kritisnya dan mengembangkan strategi untuk memungkinkan kewajiban ini untuk saling membantu.


Tanggung Jawab Ekonomi dan Sosial

Perusahaan dengan kemampuan untuk mengenali perubahan sosial yang mendalam dan mengantisipasi bagaimana mereka akan mempengaruhi operasi telah terbukti sebagai orang yang selamat.

Mereka bersosialisasi lebih baik dengan regulator pemerintah, lebih terbuka terhadap kebutuhan pemangku kepentingan perusahaan, dan sering bekerja sama dengan legislator ketika undang-undang baru dikembangkan untuk mengatasi masalah sosial.

Pada tahun 2003, para peneliti di Universitas Lowa melakukan tinjauan metodologis yang teliti semua 52 studi sebelumnya tentang hubungan antara tanggung jawab sosial perusahaan dan kinerja perusahaan.

Mereka menemukan bahwa sebagian besar waktu, lebih banyak perusahaan yang bertanggung jawab juga memiliki resuks keuangan yang solid; asosiasi statistik sangat positif di kisaran semua studi sebelumnya.

Singkatnya, sebagian besar waktu, tanggung jawab sosial, dan kinerja keuangan berjalan bersamaan, meskipun mungkin dalam beberapa kondisi tidak seperti itu.


Persyaratan Hukum versus Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Yang mendampingi tanggung jawab ekonomi perusahaan kepada pemegang sahamnya adalah kewajiban hukumnya, atau disebut legal obligations.

Sebagai anggota masyarakat, perusahaan harus mematuhi hukum dan peraturan yang mengatur masyarakat.

Aturan hukum menetapkan standar minimum untuk bisnis untuk diikuti.

Beberapa perusahaan melampaui hukum; yang lain mencari dan peraturan diberlakukan untuk memastikan perilaku yang bertanggung jawab secara sosial oleh bisnis mengubah undang-undang untuk mewajibkan pesaing untuk lebih bertanggung jawab secara sosial dan peraturan membantu menciptakan medan bermain yang setara untuk bisnis yang bersaing satu sama lain.

Hukum dan peraturan membantu menciptakan medan bermain yang seimbang untuk bisnis yang bersaing satu sama lain, seperti dengan mewajibkan semua perusahaan untuk memenuhi standar sosial yang sama.

Jika sebuah perusahaan membuang limbahnya dengan sembarangan, ia akan mengambil risiko tuntutan hukum, denda, dan kemungkinan hukuman penjara bagi sebagian dari seorang manajer dan karyawan dan publisitas yang tidak menguntungkan atas tindakannya.

Bisnis yang mematuhi hukum dan kebijakan publik memenuhi tanggung jawab sosial minimum diharapkan oleh publik.


Kepentingan Pemegang Saham versus Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Manajer tingkat atas, bersama dengan dewan direksi perusahaan, umumnya diharapkan untuk menghasilkan sebanyak mungkin nilai bagi pemilik dan investor perusahaan.

Ini dapat dilakukan dengan membayar dividen tinggi secara teratur dan dengan menjalankan perusahaan dengan cara-cara yang menyebabkan nilai saham naik.

Namun, pemegang saham bukan satu-satunya kelompok pemangku kepentingan yang harus diingat oleh manajemen.

Tugas seorang manajer puncak adalah untuk berinteraksi dengan keseluruhan pemangku kepentingan perusahaan, termasuk kelompok-kelompok yang mengadvokasi tingkat tanggung jawab sosial yang tinggi oleh bisnis.

Tujuan utama manajemen adalah untuk mempromosikan kepentingan seluruh perusahaan, bukan hanya kelompok pemangku kepentingan tunggal, dan untuk mengejar berbagai tujuan perusahaan, bukan hanya tujuan laba.

Tugas yang lebih luas dan jauh lebih kompleks ini cenderung lebih menekankan pada gambar laba jangka panjang daripada fokus eksklusif pada pengembalian langsung.

Ketika ini terjadi, dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham mungkin kurang dari yang mereka inginkan, dan nilai saham mereka mungkin tidak naik secepat yang mereka inginkan.

Ini adalah jenis risiko yang dihadapi oleh manajer perusahaan yang memiliki tanggung jawab hukum untuk menghasilkan nilai tinggi bagi pemilik pemegang saham perusahaan tetapi yang juga harus mencoba untuk mempromosikan kepentingan keseluruhan dari seluruh perusahaan.

Menempatkan semua penekanan pada keuntungan maksimum jangka pendek untuk pemegang saham dapat mengarah pada kebijakan yang mengabaikan kepentingan dan kebutuhan pemangku kepentingan lainnya.

Manajer juga dapat menurunkan program tanggung jawab sosial yang meningkatkan biaya jangka pendek, meskipun diketahui bahwa masyarakat umum sangat menyetujui perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial.


Perkembangan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Tanggung jawab sosial perusahaan secara telah berkembang selama setengah abad terakhir ini. Perubahan fase dari tanggung jawab sosial perusahaan terbagi menjadi 4 bagian, yaitu pada tahun 1950-1960an, 1960-1970an, 1980-1990an, dan terakhir 1990-2000an.

Selama masing-masing dari empat sejarah periode tersebut, tanggung jawab sosial perusahaan telah memiliki fokus yang berbeda, seperangkat driver, dan instrumen kebijakan.

Namun, periode terbaru dari tanggung jawab sosial perusahaan adalah corporate citizenship.

Sejarah dan Perkembangan Koperasi di Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Koperasi di Indonesia

Periode Di Bawah Pemerintah Jajahan Belanda

Pertumbuhan koperasi dimulai tahun 1896 di Puwokerto oleh R.Aria Wiriatmadja mendirikan Hulp en Spaarbank (Bank pertolongan dan simpanan) atau bank Priyayi.

Tujuannya khusus memberi kredit kepada para pegawai agar lepas dari lintah darat.

Kemudian dikembangkan bukan hanya untuk para pegawai, tetapi juga para petani (namanya berubah menjadi bank penolong).   Usaha ini ditentang keras oleh pemerintah penjajah karena:

  • Koperasi mendidik rakyat mengenal organisasi ekonomi yang bebas.
  • Mengenal kebebasan individu.
  • Mengenal kebebasan bangsanya.

Tahun 1915 pemerintah menghambat koperasi dengan mengeluarkan peraturan raja 431/1915, berisi:

  • Harus ijin Gubernur Jendral.
  • Memakai akte notaris yang ongkosnya tinggi.

Jaman Penjajahan Jepang

  • Pemerintah Jepang mendirikan perkumpulan Kumiai
  • Semua warga desa diwajibkan menjadi anggota tetapi tidak ada kebebasan untuk mengatur sendiri.
  • Fungsi Kumiai : Untuk mengumpulkan hasil pertanian rakyat untuk kepentingan tentara Jepang.

Koperasi Indonesia sejak Kemerdekaan

Tahun 1945-1958

17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, membuka jalan menyusun tatanan perekonomian sesuai pasal 33 UUD 1945.

Pasal 33; koperasi adalah bentuk perusahaan yang paling cocok dengan aspirasi rakyat dibidang perekonomian yaitu kerjasama dalam mencapai kemakmuran.

Akhir tahun 1946 koperasi mengadakan kongres di Ciparay dengan tujuan membentuk Pusat Koperasi Periangan dengan tugas Pokok:

  • Mengkoordinir Gerakan Koperasi yang masih ada.
  • Mendorong terbentuknya koperasi desa.
  • Secepatnya menyelenggarakan Kongres Koperasi Seluruh.

Kongres Nasional Koperasi Ke-I tanggal, 12 Juli 1947 di Tasikmalaya dengan keputusan:

  • Mendirikan SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia)
  • Menetapkan gotong royong sebagai Hari Koperasi.
  • Tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi.
  • Koperasi Desa sebagai dasar memperkuat perekonomian nasional.
  • Mendesak agar didirikan Bank Koperasi.

Bulan Juli 1953, Kongres Besar Koperasi Seluruh Indonesia Ke-II di bandung dengan keputusan antara lain:

  • Membentuk DEKOPIN (Dewan Koperasi Indonesia)
  • Pendidikan Koperasi sebagai mata pelajaran di sekolah.
  • Dr.Moh Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Tahun 1958 dikeluarkan Undang-Undang Koperasi No.79/1958.  

Tahun 1959-1966

Pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit kembali ke UUD 1945 disusul peraturan peraturan pemerintah:

  • PP No.10/1959, Melarang orang asing berdagang di daerah kecamatan ⇒ Memberi lapangan kerja koperasi desa.
  • PP No.60/1959, Pengembangan gerakan koperasi menyesuaikan undang-undang koperasi kepada UUD 1945 dan haluan manifesto politik.
  • PP No.2/1960, Pembentukan Badan Penggerak Koperasi.

Tahun 1967 hingga sekarang

Tugas pertama pemerintahan orde baru adalah menata kembali kehidupan perekonomian nasional.

  • Tahun 1967 dikeluarkan Undang-Undang Koperasi No.12/1967.
  • Tahun 1970 pemerintah mendirikan Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK).
  • Tahun 1971 pemerintah membentuk BUUD (Badan Usaha Unit Desa) dan KUD (Koperasi Unit Desa)
  • Tahun 1973 dikeluarkannya INPRES No.4/1973 mengatur kegiatan dan usaha BUUD/KUD.
  • Tahun 1978 dikeluarkannya INPRES No.2/1984 tentang Pembinaan dan Pengembangan KUD.
  • Tahun 1992 dikeluarkannya Undang-Undang Perkoperasian No.25/1992 sebagai pengganti UU No.12/1967.

Tahapan Siklus Bisnis

Tahapan Siklus Bisnis

Terdapat 6 tahap dalam siklus bisnis atau usaha, dimana tahap ini merupakan suatu siklus yang berlangsung terus menerus atau berulang-ulang.

Jadi tahapan dari bisnis ini akan terus berulang sampai suatu perusahaan telah berhenti beroperasi.

Bila digambarkan tahapannya adalah sebagai berikut:

Diagram Tahapan Siklus Bisnis

Tahap 1 : Identifikasi

Tahap pertama adalah melakukan penelitian apakah usaha dapat dikembangkan lebih lanjut atau tidak.

Sifatnya ada 3, meliputi:

  1. Ekspansi atau menambah kapasitas.
  2. Diversifikasi.
  3. Mencari produk baru.

Tahap 2 : Evaluasi

Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi usaha tersebut (pra studi kelayakan)

Jadi, hal yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data-data atau informasi yang berkaitan dengan produk atau tempat baru yang akan dibuat beserta faktor-faktor kendala.

Data yang didapat kemudian dibuat laporan yang disebut laporan Studi Kelayakan Bisnis yang memuat tentang aspek pasar, teknis, manajemen, keuangan, sosial ekonomi.

Isi laporannya meliputi:

  1. Deskripsi produk.
  2. Deskripsi pasar.
  3. Teknologi yang tersedia.
  4. Tersedianya faktor utama dan penunjang.
  5. Alternatif biaya dan laba.

Tahap 3 : Analisis

Tahap ketiga dari siklus bisnis adalah melakukan analisis atau penilaian terhadap laporan studi kelayakan bisnis untuk menentukan pilihan usaha.

Tahap 4 : Implementasi

Setelah ditentukan usaha apa yang akan dipilih, maka bisnis sudah dapat dimulai.

Dalam memulai bisnis diperlukan pengawasan agar pelaksanaan bisnis dapat berjalan sesuai dengan rancangan atau anggaran yang ada.

Tahap 5 : Operasi

Tahap kelima adalah melakukan pelaporan dan pelaksanaan operasi.

Tahap 6 : Evaluasi

Dari hasil kegiatan usaha yang telah dilakukan, diperlukan evaluasi hasil dari pelaksanaan operasi dan kegiatan usaha untuk dapat menilai apakah kegiatan usaha sudah berjalan dengan baik atau tidak.

Studi Kelayakan Bisnis

Studi Kelayakan Bisnis

Pengertian Bisnis

Bisnis adalah suatu kegiatan investasi untuk mendapatkan manfaat dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang, yang dapat direncanakan, dikelola dan dievaluasi sebagai satu unit.


Pengertian Studi Kelayakan Bisnis

Studi kelayakan bisnis adalah penelitian tentang kemungkinan suatu usaha atau bisnis (yang merupakan investasi) akan dapat dilaksanakan dengan berhasil.

Keberhasilan ini dalam arti dapat memberikan manfaat ekonomis (misalnya memperoleh laba) maupun non-ekonomis (misalnya menambah kesehatan masyarakat).

Oleh karena itu suatu rencana proyek harus dinilai dari semua aspek yang akan mempengaruhi kegiatan proyek itu jika jadi dilaksanakan.


Aspek manfaat dari Studi Kelayakan Bisnis

  1. Manfaat ekonomis bagi proyek itu sendiri.
    • Maksudnya adalah proyek cukup menguntungkan dari segi finansial atau dapat memberikan manfaat finansial.
  2. Manfaat ekonomis bagi negara tempat proyek dilaksanakan.
    • Maksudnya adalah proyek harus bermanfaat bagi ekonomi makro negara tersebut.
  3. Manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat atau lingkungan sekitar proyek tersebut dilaksanakan.

Pengertian Investasi

Investasi adalah pengeluaran dana saat ini untuk memperoleh manfaat di masa yang akan datang.


Pentingnya Bisnis

Dari sudut pandang investor, bisnis itu sangat penting, alasan nya adalah untuk memperoleh manfaat di masa yang akan datang layaknya investasi.   Berikut adalah ciri-ciri dari modal untuk bisnis :

  1. Merupakan pengeluaran modal yang mempunyai konsekuensi jangka panjang.
  2. Pengeluaran modal tersebut pada umumnya menyangkut jumlah dana yang cukup besar.
  3. Komitmen pengeluaran dana atau modal tidak mudah diubah.

Pentingnya dilakukan Studi Kelayakan Bisnis

Suatu usaha atau bisnis umumnya memerlukan penanaman modal atau dana yang cukup besar sehingga perlu adanya suatu kepastian agar usaha atau bisnis tersebut tidak mendatangkan kerugian.

Oleh sebab itu, diperlukan studi kelayakan bisnis untuk mengkaji atau meneliti apakah suatu bisnis layak dijalankan atau tidak.

Studi kelayakan bisnis ini bukan hanya harus dilakukan saat ingin memulai usaha, melainkan studi kelayakan bisnis merupakan suatu siklus yang tidak berhenti yang harus dilakukan oleh perusahaan.

Jadi, pada intinya perusahaan harus terus melakukan studi kelayakan bisnis sampai perusahaan itu tutup atau tidak beroperasi lagi.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensitas Studi Kelayakan Bisnis

  1. Besarnya modal yang ditanam.
  2. Tingkat ketidakpastian usaha.
  3. Kompleksitas dari elemen-elemen yang terkait dengan bidang usaha.

Lembaga-Lembaga yang memerlukan Studi Kelayakan Bisnis

  1. Investor

Investor dalam hal ini adalah pemilik atau pemegang saham, dimana Studi kelayakan bisnis ini sangat penting untuk meningnkatkan keyakinan para pemegang saham untuk menginvestasikan dananya.

  1. Kreditur atau Bank

Pihak bank juga memerlukan studi kelayakan bisnis untuk menjamin kepastian pengembalian pinjaman perusahaan dengan melihat dari aliran kas perusahaan itu sendiri.

  1. Pemerintah

Pemerintah berkepentingan terhadap manfaat bagi perekonomian nasional seperti penghematan atau penambahan devisa, perluasan tenaga kerja, dan yang lain sebagainya.


Jadi dapat disimpulkan dari sudut pandan investor, kegiatan investasi menyangkut pengeluaran modal yang punya arti sangat penting, karena :

  1. Modal yang akan dikeluarkan mempunyai konsekuensi jangka panjang karena akan membentuk kegiatan perusahaan di masa yang akan datang.
  2. Modal yang dikeluarkan jumlahnya relatif sangat besar.
  3. Komitmen pengeluaran modal yang telah dilakukan tidak mudah diubah lagi apalagi dibatalkan.