Sewa Guna Usaha (Leasing)

Sewa Guna Usaha - Leasing

Sewa guna usaha atau dalam bahasa inggis yang biasa lebih dikenal dengan sebutan leasing adalah kegiatan pembiayaan suatu barang modal oleh bank atau perusahaan penyedia leasing kepada pengguna dari leasing tersebut untuk memanfaatkan fungsi dari barang tersebut dalam jangka waktu tertentu tanpa harus membelinya.

Sebagai gantinya, selama jangka waktu dari perjanjian leasing tersebut, pengguna jasa leasing harus membayar biaya sewa secara berkala kepada perusahaan leasing tersebut.

Di satu pihak, leasing mirip seperti kegiatan sewa menyewa, tetapi di sisi lain leasing juga mengandung unsur jual beli.

Karena, pada akhir waktu perjanjian leasing, pengguna leasing dapat membeli barang sesuai dengan perjanjian leasing yang telah ditetapkan.


Pihak Pihak yang Terlibat Dalam Leasing

Pada prinsipnya para pihak yang terlibat dalam leasing meliputi:

1. Lessor

Lessor adalah pihak yang memberikan pembiayaan dengan cara leasing kepada pihak yang membutuhkannya.

Dalam hal ini lessor bisa berupa bank yang bersifat multi finance maupun perusahaan yang khusus bergerak di bidang leasing.

2. Lessee

Lessee adalah pihak yang memerlukan barang modal (pengguna leasing), dimana barang modal tersebut akan dibiayai oleh lessor yang diperuntukkan kepada lessee.

3. Supplier

Supplier adalah pihak yang menyediakan barang modal yang menjadi objek leasing, barang modal tersebut akan dibayar oleh lessor kepada supplier untuk kepentingan lessee.

Terdapat juga jenis leasing yang tidak memerlukan supplier melainkan berupa hubungan bilateral antara pihak lessor dengan pihak lessee misalnya dalam bentuk sale and lease back.


Hubungan Antara Lessor, Lessee, dan Supplier

Sesuai dengan yang telah dijelaskan diatas, dapat dilihat jika terdapat hubungan antara lessor, supplier, dan lessee dimana lessor memberikan biaya pembelian barang secara tunai kepada supplier.

Kemudian, supplier baru memberikan barang kepada lessee, setelah lessee memperoleh barang, maka ia baru melakukan pembayaran secara rutin kepada lessor.

Sementara itu, mengenai mekanisme hubungan antar lessor, lessee, dan supplier, terdapat berbagai alternatif yaitu sebagai berikut :

  1. Lessor membeli barang atas permintaan lessee, selanjutnya memberikan kepada lessee secara leasing.
  2. Lessee membeli barang sebagai agennya lessor, dan mengambil barang tersebut secara leasing dari lessor.
  3. Lessee membeli barang atas namanya sendiri, tetapi dalam kenyataannya sebagai agen dari lessor, dan mengambil barang tersebut secara leasing dari lessor.
  4. Lessee membeli barang untuk dan atas namanya sendiri, kemudian menjualnya kepada lessor, dan mengambil kembali barang tersebut secara leasing.
  5. Lessor sendiri yang mendapatkan barang secara leasing dengan hak untuk melakukan subleasing, dan memberikan subleasing kepada lessee.

Jenis-Jenis Leasing

Pada dasarnya, leasing dibagi menjadi 2 jenis yaitu operating lease dan financial lease.  

1. Operating Lease (Service Lease)

Operating lease atau yang biasanya lebih dikenal sebagai service lease, adalah jenis leasing dimana jumlah biaya yang terkait dengan aset seperti biaya asuransi, pajak, maupun biaya pemeliharaan ditanggung oleh pihak lessor.

Jadi, pihak lessee hanya perlu membayarkan biaya leasing kepada lessor secara berkala setiap periodenya.

Dalam operating lease, kepemilikan terhadap suatu aset dimiliki oleh pihak lessor, sehingga pada akhir periode perjanjian leasing, aset tersebut akan dikembalikan ke pihak lessor tersebut.

Ciri-ciri lain dari operating lease adalah usia kontrak leasing yang lebih pendek dari usia ekonomis aktiva (usia barang) sehingga barang tersebut masih dapat bermanfaat bagi pihak lessor setelah dikembalikan.

2. Financial Lease (Capital Lease)

Financial lease atau yang biasanya lebih dikenal sebagai capital lease, adalah jenis leasing dimana jumlah biaya yang terkait dengan aset seperti biaya asuransi, pajak, maupun biaya pemeliharaan dibebankan kepada pihak lessee.

Sehingga, pihak lessee perlu membayarkan biaya leasing yang ditambah dengan beban-beban aset yang ada.

Hanya saja, berbeda dengan operating lease, terdapat opsi untuk mengalihkan kepemilikan aset dari pihak lessor ke pihak lessee sesuai dengan perjanjian leasing nya.

Dimana pihak lessee dapat membeli aset tersebut pada harga yang lebih rendah dari harga pasar.

Usia kontrak dari financial lease ini bisa lebih pendek maupun lebih panjang dari umur ekonomis aktiva (usia barang), dimana usia kontraknya ≥ 75% umur ekonomis aktiva yang diperkirakan.


Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Leasing

Seperti aktivitas-aktivitas lainnya, kegiatan leasing juga mempunyai keuntungan dan kerugian yang akan didapatkan.

Menurut Dahlan Siamat (2005) keuntungan yang akan didapatkan oleh lessee apabila melakukan leasing antara lain adalah:

  1. Lessee akan terhindar dari kebutuhan dana besar dan biaya bunga yang tinggi.
  2. Lessee mengurangi resiko keusangan, karena ia dapat mengoperkan barang yang dilease kepada pihak lessor setelah kontrak pemakaiannya.
  3. Leasing tidak menambah utang di neraca keuangan dan tidak mempengaruhi rasio leverage.

Sedangkan kerugian dari leasing bagi lessee antara lain adalah:

  1. Lessee wajib memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan lessor untuk melindungi peralatannya. Misalnya seperti asuransi, pembatasan operasi barang.
  2. Lessee bisa saja kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan barang pada saat akhir pada saat akhir lease untuk beberapa jenis barang.
  3. Lease khususnya financial lease mungkin kurang tepat apabila lessee hanya membutuhkan aktiva dalam jangka pendek, karena jika dibatalkan sebelum perjanjian lease akan menimbulkan biaya yang cukup besar.
  4. Hak menggunakan barang lease merupakan intangible asset atau aset tak berwujud yang tidak dapat disajikan dalam neraca sebagai aktiva tetap.

Perbedaan antara Leasing dengan Bentuk Pendanaan Lain

Selain itu, terdapat juga perbedaan antara leasing dengan bentuk pendanaan lainnya seperti sewa beli, sewa menyewa, dan kredit bank, adalah sebagai berikut:

Tabel Perbedaan Antara Leasing dengan Pendanaan Lain

10 Aksioma dalam Manajemen Keuangan

10 Aksioma Dalam Manajemen Keuangan

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti dari kata aksioma adalah pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian.

Jadi, maksud dari aksioma dalam manajemen keuangan adalah pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian sesuai dengan keadaan manajemen keuangan.

Dalam manajemen keuangan, terdapat 10 aksioma yang sangat penting dan perlu kita pelajari dan mengerti untuk menjadi manajer keuangan yang baik.

Iklan

Berikut adalah 10 aksioma dalam manajemen keuangan:

1. Keseimbangan Risiko dan Pengembalian / Risk – Return Trade-off

Pernyataan yang menyatakan bahwa besarnya risiko dan pengembalian berbanding lurus dan seimbang.

Jadi, maksudnya semakin besar risiko dari suatu pekerjaan, maka tingkat pengembaliannya akan semakin besar pula.

Contohnya seperti menabung di bank mempunyai risiko yang lebih kecil dibanding investasi di pasar modal, tetapi tingkat pengembalian pada bank dalam hal ini adalah bunga lebih kecil dibanding pertumbuhan di pasar modal.


2. Nilai Waktu Uang / Time Value of Money

Terdapat 2 hal yang setidaknya perlu anda ketahui tentang time value of money, meliputi:

  1. Nilai Uang Sekarang (Present Value)
  2. Nilai Uang yang Akan Datang (Future Value)

Pada umumnya, nilai uang semakin lama akan semakin menurun dengan berjalannya waktu.

Penurunan dari nilai mata uang itu sendiri disebabkan karena adanya inflasi atau kenaikan harga yang menyebabkan nilai uang menjadi semakin kecil.

Contohnya, dulu dengan uang Rp.1.000 kita sudah bisa mendapat 10 permen, sedangkan sekarang uang Rp.1.000 hanya bisa mendapat 3 permen.

Oleh karena itu, muncul lah bunga perbankan yang berfungsi untuk mencegah atau mengantisipasi agar nilai yang yang akan datang tidak menurun dari nilai sekarang.

Jadi akan lebih menguntungkan jika kita menerima uang dengan jumlah yang sama pada saat sekarang dibandingkan di masa mendatang karena nilai waktu dari uang tersebut.


3. Kas adalah yang Utama bukan Besarnya Laba / Cash (Not Profit) is King

Kebanyakan pengusaha sekarang ini hanya memikirkan besarnya laba dan mengabaikan aliran kas dari perusahaan mereka sendiri.

Hal inilah yang menyebabkan mereka kewalahan dalam menjalankan bisnis.

Karena, meskipun laba perusahaan meningkat, tetapi biasanya sebagian besar dalam bentuk piutang.

Hal ini dapat menyebabkan kas perusahaan tidak dapat membiayai hutang-hutang (Liability) perusahaan yang ada.

Hal ini juga berkaitan dengan nilai dari uang itu sendiri seperti yang sudah dibahas pada poin ke-2.

Oleh karena itu, kas adalah yang utama bukanlah besarnya laba.

Namun dalam hal ini bukan berarti besarnya laba tidak penting, hanya saja besarnya kas jauh lebih penting.


4. Tambahan Arus Kas / Incremental Cash Flows Count

Incremental Cash Flow adalah arus kas tambahan yang diperoleh perusahaan dalam mengambil suatu proyek baru.

Nilai Incremental Cash Flow yang positif akan meningkatkan kemungkinan proyek tersebut akan diambil.

Dimana, nilai dari incremental cash flow itu sendiri dihitung dengan rumus:

Incremental cash flow = Pendapatan – Pengeluaran – Biaya awal

Contohnya, suatu perusahaan berencana untuk mengembangkan produk baru, dimana terdapat 2 alternatif produk yaitu A dan B

Proyeksi pendapatan produk A adalah sebesar $50.000 dengan pengeluaran $20.000 dan biaya awal $5.000.

Sedangkan proyeksi pendapatan produk B adalah Sebesar $40.000 dengan pengeluaran $5.000 dan biaya awal $5.000.

Jika dihitung maka didapat Incremental Cash Flow produk A adalah $25.000 dan produk B $30.000.

Meskipun pendapatan dari produk A lebih besar, hanya saja besarnya incremental cash flow nya lebih kecil dibanding produk B.

Maka alternatif produk yang dipilih adalah produk B.


5. Kondisi Persaingan Pasar / The Curse of Competitive Markets

Kondisi persaingan pasar ini disebabkan karena banyaknya produsen yang menjual produk yang sama yang berakibat timbulnya persaingan pasar.

Dalam hal ini, dapat mengakibatkan menurun nya laba perusahaan akibat dari persaingan untuk merebut pasar.

Oleh karena itu, agar suatu bisnis dapat bersaing, maka diperlukan penguasaan terhadap sumber daya, diversifikasi produk, dan penguasaan teknologi untuk menekan biaya nya.

Iklan

6. Pasar Modal yang Efisien / Efficient Capital Markets

Maksud dari pasar modal yang efisien adalah perusahaan mampu bergerak cepat dan harga yang tepat atas aktiva finansial yang diperjual belikan di pasar modal.

Dimana harga aktiva finansial tersebut telah mencerminkan semua informasi yang relevan.

Efisiensi dari pasar modal dapat dinilai dari keberhasilan perusahaan dalam menggabungkan dan menyelaraskan informasi.


7. Masalah Keagenan / The Agency Problem

Teori keagenan adalah teori yang mengatur hubungan antara pemberi kerja dan penerima tugas atau agen.

Masalah keagenan dalam konteks manajemen keuangan, pemberi kerja nya adalah pemegang saham sedangkan agen nya adalah manajer.

Manajer sebagai agen perusahaan harus dapat mengelola perusahaan sehingga dapat memberikan keuntungan untuk para pemegang saham.

Masalahnya adalah seringkali manajer tidak bekerja untuk kepentingan para pemegang saham.

Manajer seringkali mengambil kebijakan untuk kepentingan mereka sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan struktur atau kebijakan untuk mengatur kepentingan kedua belah pihak antara pemegang saham dan manajer sebagai agen.


8. Perpajakan yang Berdampak pada Keputusan Bisnis / Taxex Bias Business Decisions

Maksudnya adalah diperlukan pertimbangan pajak terhadap pengambilan keputusan suatu bisnis.

Jadi, dalam pengambilan keputusan keuangan perusahaan haruslah setelah dipotong pajak.

Hal ini disebabkan karena perhitungan setelah pajak mencerminkan nilai sebenarnya dari suatu produk.


9. Tidak Semua Risiko Sama / All Risk Not Equal

Setiap usaha tentunya mempunyai risiko yang berbeda.

Sehingga manajer keuangan perlu melakukan diversifikasi dalam investasi untuk mengantisipasi risiko-risiko yang tidak diinginkan.

Misalnya, manajer keuangan dalam melakukan investasi, tidak hanya melakukan investasi pada surat berharga tertentu saja.

Melainkan melakukan diversifikasi, yaitu dengan membuat portofolio yang merupakan campuran dari berbagai surat berharga seperti saham, obligasi, dan lain-lain.

Dengan membuat portofolio dapat meminimalkan risiko yang tidak diinginkan.

Contohnya seperti jika terjadi penurunan terhadap harga saham yang dibeli, kerugian tersebut dapat ditutup dengan kupon atau bunga yang didapat dari pembelian obligasi.


10. Melakukan Sesuatu yang Benar adalah Perilaku Etis / Ethical Dillemas Are Everywhere in Finance

Etika merupakan nilai atau norma yang dipegang teguh seseorang.

Dalam menjalankan bisnis, seringkali terjadi dilema etika pada setiap individu.

Hal ini didasarkan pada kepentingan setiap individu yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, dalam suatu perusahaan diperlukan adanya aturan atau norma yang universal untuk mengatur perilaku etis yang sering disebut sebagai budaya organisasi.

Perusahaan juga perlu mendorong para karyawan nya untuk memegang teguh nilai-nilai tersebut dengan baik.