Metode Depresiasi (Penyusutan) Dalam Akuntansi

Depresiasi atau biasa sering disebut penyusutan merupakan salah satu istilah yang tentunya sering kalian dengar.

Dimana, depresiasi dapat didefinisikan sebagai pengurangan nilai wajar atas aset akibat penggunaan atau seiring dengan berjalannya waktu.

Contohnya seperti saat anda membeli handphone atau aset lain, yang mana nilainya semakin lama akan semakin berkurang di masa depan.

Besarnya nilai depresiasi (pengurangan nilai wajar) dari setiap aset tentunya juga berbeda-beda.

Dimana, faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi:

  • Harga Perolehan, semakin mahal nilai aset tentunya depresiasi nya semakin besar.
  • Umur Ekonomis, dimana semakin pendek umur dari suatu aset maka nilai depresiasi nya akan semakin besar.
  • Penggunaan, pada umumnya semakin sering barang digunakan maka nilai depresiasi nya juga akan semakin besar.
  • Nilai Sisa, semakin kecil nilai sisa suatu aset maka besarnya depresiasi akan menjadi semakin besar.

Karena terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi besarnya depresiasi, penting bagi manajer untuk dapat memilih metode depresiasi yang benar dalam perhitungan asetnya.

Dengan begitu, perusahaan dapat mengetahui nilai pasti tetap dari bisnis anda.

Sebab, walaupun perusahaan tidak benar-benar mengeluarkan uang untuk biaya depresiasi ini, tetapi nilai manfaat aset dianggap akan berkurang seiring pemakaian dan berjalannya waktu.

Dimana, biaya depresiasi termasuk biaya yang dibebankan dalam laporan laba rugi perusahaan.

Terdapat berbagai metode dalam menentukan besarnya depresiasi (pengurangan nilai wajar) dari suatu aset. Meliputi:

  1. Metode Garis Lurus (Straight-Line Depreciation Method)
  2. Metode Saldo Menurun (Double-Declining Balance Depreciation Method)
  3. Metode Aktivitas Produksi (Unit of Production Depreciation)
  4. Metode Depresiasi Jumlah Tahun (Sum-of-the-Years-Digits Depreciation Method)

Metode Depresiasi (Penyusutan)

1. Metode Garis Lurus

Metode penyusutan garis lurus merupakan metode depresiasi yang paling sering digunakan dan umum diketahui oleh semua orang.

Sebab, perhitungan penyusutan menggunakan metode ini sangat mudah dan sederhana.

Dinamakan garis lurus karena besar depresiasi atau penyusutan suatu aset dari waktu ke waktu nilainya selalu tetap sampai umur manfaat aset sudah habis.

Hanya saja, metode perhitungan ini terkadang dinilai kurang realistis sebab dalam metode ini tidak memperhatikan jumlah penggunaan aset setiap tahun dan kebaruan aset.

Rumus:

Rumus dalam perhitungan metode depresiasi (penyusutan) garis lurus adalah sebagai berikut:

Depresiasi = (Harga Perolehan – Nilai Sisa) / Umur Ekonomis

Contoh Soal:

PT Dounkeys memiliki kendaraan dengan harga perolehan sebesar $ 35.000 dan nilai sisa $ 10.000. Diperkirakan umur ekonomis dari kendaraan tersebut adalah 10 tahun.

Berdasarkan data tersebut, maka besarnya depresiasi setiap tahun dapat dihitung dengan menggunakan rumus diatas.

Sehingga:

Depresiasi = (35.000 – 10.000) / 10 = $ 2.500 per tahun

Jika dibuat dalam bentuk tabel dan grafik, kira-kira berikut adalah gambarannya:

TahunHarga PerolehanDepresiasi
1$ 35.000$ 2.500
2$ 32.500$ 2.500
3$ 30.000$ 2.500
4$ 27.500$ 2.500
5$ 25.000$ 2.500
6$ 22.500$ 2.500
7$ 20.000$ 2.500
8$ 17.500$ 2.500
9$ 15.000$ 2.500
10$ 12.500$ 2.500
Nilai Sisa$ 10.000

2. Metode Saldo Menurun

Metode saldo menurun merupakan metode penyusutan yang pada dasarnya mirip dengan metode garis lurus.

Hanya saja, dalam metode ini menggunakan asumsi bahwa besarnya biaya penyusutan pada tahun awal akan lebih tinggi dari tahun-tahun setelahnya.

Sebab, pada umumnya suatu aset akan lebih produktif saat kondisi masih baru dan kemudian nilai manfaatnya akan semakin berkurang seiring dengan berjalannya waktu.

Sehingga biaya penyusutan dari tahun ke tahun semakin lama akan menjadi semakin kecil.

Rumus:

Rumus dalam perhitungan metode depresiasi (penyusutan) saldo menurun adalah dengan mengalikan harga perolehan pada awal setiap periode dengan besarnya persentase penyusutan setiap tahun.

Perlu diingat bahwa harga perolehan awal setiap periode nilainya akan terus berkurang, karena setiap tahun aset tersebut akan terdepresiasi.

Dan untuk mengetahui berapa besarnya persentase nilai penyusutan setiap tahun dapat menggunakan rumus:

Persentase Penyusutan = (100% / Umur Ekonomis) x 2

Contoh Soal:

PT Dounkeys memiliki kendaraan dengan harga perolehan sebesar $ 35.000 dan nilai sisa $ 0. Diperkirakan umur ekonomis dari kendaraan tersebut adalah 5 tahun.

Maka, pertama-tama kita harus mencari terlebih dahulu besarnya persentase penyusutan setiap tahun dengan rumus diatas.

Persentase Penyusutan = (100% / 5) x 2 = 40%

Setelah itu, kita baru dapat menghitung besarnya depresiasi dengan mengalikan 40% dengan harga perolehan awal aset setiap periode.

Contohnya, pada tahun pertama, maka harga perolehan aset masih sebesar $ 35.000, sehingga besar depresiasinya adalah $ 35.000 x 40% = $ 14.000.

Pada tahun kedua, harga perolehan aset sudah tidak sebesar $ 35.000 lagi, sebab sudah ada penyusutan dari tahun pertama.

Sehingga besar nilai perolehan aset pada tahun kedua adalah $ 35.000 – $ 14.000 = $ 21.000

Maka dari itu, nilai penyusutannya adalah $ 21.000 x 40% = $ 8.400.

Perhitungan untuk tahun selanjutnya sama, tinggal dilanjutkan dari perhitungan sebelumnya. Sehingga jika dibuat dalam tabel dan grafik adalah sebagai berikut:

TahunHarga Perolehan AwalDepresiasi (40%)Harga Perolehan Akhir
1$ 35.000$ 14.000$ 21.000
2$ 21.000$ 8.400$ 12.600
3$ 12.600$ 5.040$ 7.560
4$ 7.560$ 3.024$ 4.536
5$ 4.536$ 4.536$ 0

Perlu diperhatikan bahwa pada akhir periode, nilai depresiasi yang diambil bukanlah sebesar 40% dari harga perolehan awal tahun ke-5. (yang mana seharusnya sebesar $ 1.814,4)

Melainkan yang diambil adalah sebesar $ 4.536. Hal ini bertujuan agar harga perolehan akhir menjadi $ 0 sesuai dengan nilai sisanya.

Sebab perusahaan berasumsi bahwa barang tersebut setelah masa pakai sudah tidak memiliki harga sama sekali lagi ($ 0), sehingga selisih biayanya akan dibebankan pada biaya tahun terakhir.

3. Metode Aktivitas Produksi

Berbeda dengan kedua metode sebelumnya yang melihat nilai umur aset, pada metode ini lebih memperhatikan kuantitas penggunaan dari suatu aset.

Dengan kata lain, semakin sering suatu aset digunakan, maka besarnya penyusutan akan semakin besar.

Contohnya seperti pada mesin pabrik, semakin sering digunakan untuk produksi, nilai depresaisinya akan semakin besar.

Hanya saja, keterbatasan dari metode ini adalah pada metode ini mengabaikan waktu atau usia aset, sehingga jika aset tersebut tidak digunakan, maka metode ini menganggap besarnya penyusutan atau depresiasi adalah 0.

Rumus:

Rumus dalam perhitungan metode depresiasi (penyusutan) aktivitas produksi adalah sebagai berikut:

Depresiasi = (Jumlah Aktivitas / Total Aktivitas) x (Harga Perolehan – Nilai Sisa)

Aktivitas yang dimaksud pada rumus diatas dapat mengacu pada jumlah unit produksi (jika aset berupa mesin), jarak tempuh kendaraan (jika aset berupa kendaraan), atau berapa lama waktu lama penggunaan aset tersebut dan yang lain sebagainya.

Contoh:

Pt Dounkey memiliki mesin produksi dengan harga perolehan sebesar $ 35.000 dan nilai sisa $ 15.000. Berikut adalah riwayat penggunaan mesin produksi tersebut:

TahunJumlah Produksi
20156.000
20162.000
20174.000
20183.000
20195.000
Total20.000

Untuk menghitung besarnya depresiasi tiap tahun, kita tinggal memasukkan data setiap tahun untuk dihitung dengan menggunakan rumus diatas.

Contohnya,

Tahun 2015
(6.000 / 20.000) x ($ 35.000 – $ 15.000)
= $ 6.000

Tahun 2016
(2.000 / 20.000) x ($ 35.000 – $ 15.000)
= $ 2.000

Tahun 2017
(4.000 / 20.000) x ($ 35.000 – $ 15.000)
= $ 4.000

Tahun 2018
(3.000 / 20.000) x ($ 35.000 – $ 15.000)
= $ 3.000

Tahun 2019
(5.000 / 20.000) x ($ 35.000 – $ 15.000)
= $ 5.000

Sehingga, dari hasil diatas, jika dibuat dalam tabel dan grafik, berikut adalah gambarannya:

TahunHarga PerolehanDepresiasi
2015$ 35.000$ 6.000
2016$ 29.000$ 2.000
2017$ 27.000$ 4.000
2018$ 23.000$ 3.000
2019$ 20.000$ 5.000
Nilai sisa$ 15.000

4. Metode Depresiasi Jumlah Tahun

Metode depresiasi jumlah tahun pada dasarnya mirip dengan metode saldo menurun, sebab seiring berjalannya waktu, nilai depresiasi akan semakin menurun.

Yang membedakannya adalah pada metode ini menggunakan basis tahun dalam menentukan jumlah besarnya depresiasi.

Untuk lebih jelasnya dapat langsung dilihat di rumus dan contoh perhitungan dibawah.

Rumus:

Rumus dalam perhitungan metode depresiasi (penyusutan) jumlah tahun adalah sebagai berikut:

Depresiasi = (Sisa Umur Manfaat / Total Umur Manfaat) x (Harga Perolehan – Nilai Sisa)

Sisa umur manfaat berarti berapa lama lagi aset untuk dapat digunakan. Sedangkan total umur manfaat berupa total dari sisa umur manfaat aset dari tahun ke tahun.

Contohnya, suatu aset memiliki umur manfaat selama 5 tahun. Maka, pada tahun pertama sisa umur manfaatnya masih 5 tahun, pada tahun kedua 4 tahun, dst.

Sedangkan, total umur manfaatnya dapat dicari dengan menjumlahkan 5 + 4 + 3 + 2 + 1 yang merupakan penjumlahan dari sisa umur manfaat setiap tahun. Sehingga total umur manfaatnya adalah 15 tahun.

Contoh:

Pt Dounkey memiliki mesin produksi dengan harga perolehan sebesar $ 45.000 dan nilai sisa $ 15.000. Umur ekonomis dari mesin tersebut diperkirakan selama 5 tahun.

Maka, untuk mencari besarnya depresiasi, tinggal memasukkan data yang ada ke rumus diatas.

Contohnya,

Tahun pertama:
(5 / 15) x ($ 45.000 – $ 15.000)
= $ 10.000

Tahun kedua:
(4 / 15) x ($ 45.000 – $ 15.000)
= $ 8.000

Tahun ketiga:
(3 / 15) x ($ 45.000 – $ 15.000)
= $ 6.000

Tahun keempat:
(2 / 15) x ($ 45.000 – $ 15.000)
= $ 4.000

Tahun kelima:
(1 / 15) x ($ 45.000 – $ 15.000)
= $ 2.000

Sehingga, dari hasil diatas, jika dibuat dalam tabel dan grafik, berikut adalah gambarannya:

TahunHarga PerolehanDepresiasi
1$ 45.000$ 10.000
2$ 35.000$ 8.000
3$ 27.000$ 6.000
4$ 21.000$ 4.000
5$ 17.000$ 2.000
Nilai Sisa$ 15.000

Leave a Comment